Senin, 08 Juni 2015

PASUKAN PELAJAR IMAM


Pembuka
Hari Jum’at Legi, tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diproklamirkan kemerdekaanya oleh Soekarno dan Moh. Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia. MERDEKA. “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”, begitulah semboyannya. Namun demikian kemerdekaan ini tidak secara mulus dapat kita peroleh. Banyak pihak yang tidak menghendaki Indonesia merdeka.
Pada tanggal 19 Agustus 1945 dalam sidang PPKI, dua orang anggota PPKI yaitu Abikoesno Tjokrosuroso dan Otto Iskandardinata mengusulkan untuk dibentuk sebuah badan pembelaan negara. Namum usul tersebut ditolak, karena dapat memancing bentrokan dengan tentara pendudukan Jepang yang masih bersenjata lengkap serta mengundang intervensi tentara Sekutu yang akan melucuti senjata tentara Jepang. Tentara Jepang yang jumlahnya mencapai 344.000 di seluruh Indonesia mentalnya sangat terpukul karena kalah perang. Dengan keadaan mental yang tidak stabil mereka diberi tugas oleh tentara Sekutu untuk menjaga keamanan di Indonesia, sampai Sekutu datang.
Pada tanggal 20 Agustus 1945 didirikan Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) dan pada tanggal 22 Agustus 1945 dibentuk Badan Keamanaan Rakyat (BKR) yang merupakan bagian dari BPKKP yang semula bernama Badan Pembantu Prajurit dan kemudian menjadi Badan Pembantu Pembelaan (BPP). BPP sudah ada dalam zaman Jepang dan bertugas memelihara kesejahteraan anggota-anggota tentara Pembela Tanah Air (PETA) dan Heiho. Sebelumnya pada tanggal 18 Agustus 1945 Jepang membubarkan PETA dan Heiho.
Presiden Soekarno tanggal 23 Agustus 1945 mengumumkan dibentuknya BKR. BKR yang kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945 ditetapkan manjadi Tentara Nasional Indonesia atau TNI, dan terakhir diganti menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau ABRI. Presiden berpidato dengan mengajak para sukarelawan pemuda, bekas PETA, Heiho, dan Kaigun untuk berkumpul pada tanggal 24 Agustus 1945 di daerahn masing-masing, termasuk daerah Banyumas untuk bergabung dalam BKR. Karena keterbatasan sarana komunikasi saat itu, tidak semua daerah di Indonesia mengetahui perintan untuk pembentukan BKR.
Dengan jalan membonceng kepentingan SEKUTU, Belanda berusaha masuk dan menguasai Indonesia. Pasukan Sekutu yang diwakili oleh AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies, yakni Pasukan Sekutu dari Divisi Inggris) di bawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christisson mendarat di Tanjung Priok pada tanggal 29 September 1945.
Kedatangan pasukan AFNEI ini pada awalnya disambut dengan hangat oleh pemerintah RI, karena mereka mengemban tugas untuk:
1.    melucuti sejata pasukan Jepang dan memulangkan tentara Jepang ke negaranya
2.    membebaskan tawanan perang
3.    mengadili dan menjatuhkan hukuman kepada para penjahat perang.
Situasi berubah menjadi kecurigaan setelah bangsa Indonesia mengetahui bahwa kedatangan pasukan AFNEI diboncengi oleh NICA (Nederlands Indische Civil Administratie) di bawah komando Mayjend HJ Van Mook dan Mayjend Van der Plass.
Pembentukan Pasukan IMAM
Bersamaan dengan dibentuknya BKR di daerah Banyumas dan timbulnya suasana revolusioner di sekitar pertengahan bulan September tahun 1945, Suprapto, salah seorang pelajar SMP mengundang para pelajar SMP untuk mengikuti rapat di ruang kelas 3 SMP Laki-laki (SMP Bruderan) jl. Sekolah Purwokerto. Rapat diadakan sesudah jam pelajaran berakhir (sesudah jam 13.00). Dalam suasana hujan lebat di luar gedung, pemuda Suprapto mencetuskan ide untuk membentuk satuan tentara pelajar bersenjata, yang ikut bersama BKR menjaga keamanan serta bila perlu ikut berjuang di medan tempur.
Atas dukungan dari Mayor Abimanyu (dari BKR) dan Djumad Abdul Razak (guru SMP), Soeprapto dengan dibantu empat oleh orang rekannya yakni Soewarso, Soedarto, Djahidin dan Soehartono dengan penuh keyakinan dan penuh semangat memberikan penjelasan dan menanamkan jiwa revolusioner kepada teman-temannya. Karena itu kelima orang tersebut disebut sebagai perintis berdirinya Pasukan Pelajar IMAM. Pertemuan-pertemuan selanjutnya dilaksanakan di rumah Soeprapto di jalan Pesayangan, yang sekaligus sebagai tempat pendaftaran anggota Pasukan Pelajar IMAM.
Ternyata minat para pelajar untuk menyumbangkan tenaga untuk ibu pertiwi besar sekali. Dengan anggota sekitar 25 - 30 orang pelajar, pada minggu akhir bulan September 1945 telah terbentuk Pasukan Pelajar Indonesia Merdeka Atau Mati (IMAM) dengan Soeprapto sebagai ketuanya dan gedung Yosodarmo sebagai markasnya. Menurut Soeprapto, tugas utama Pasukan Pelajar IMAM adalah membantu BKR dalam pelaksanaan menjaga keamanan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Hubungan antara Pasukan Pelajar IMAM dan BKR amat erat, Pasukan Pelajar IMAM menganggap BKR sebagai bapaknya, sebaliknya BKR menganggap Pasukan Pelajar IMAM sebagai anaknya.
Pada bulan Oktober 1945 BKR dirubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Di daerah Banyumas didirikan Divisi V (terdiri dari 4 resimen) di bawah pimpinan Kolonel Soedirman. Dengan seizin dan atas petunjuk Kol. Soedirman anggota-anggota Pasukan Pelajar IMAM bergabung atau menyatu dengan kesatuan TKR, dalam arti sebagai anggota biasa dari TKR, mengikuti semua gerakan TKR, termasuk gerakan di front medan pertempuran.
Kolonel Gatot Soebrot, sebagai komandan Divisi Gunungjati selain menganggap Pasukan IMAM sudah seperti anaknya sendiri, juga menganggap Pasukan Pelajar IMAM di dalam pertempuran merupakan pasukan istimewa, yang keberanian dan kemampuan tempur telah terbukti. Dalam tugas-tugas kemiliteran Pasukan Pelajar IMAM selama agresi militer Belanda dimasukkan dalam kesatuan-kesatuan TNI setempat. Sedang bila ada gencatan senjata Pasukan Pelajar IMAM bertugas sebagai pengawal Panglima Gatot Soebroto.
Karena anggota Pasukan Pelajar IMAM pada saat itu dirasa masih sedikit, maka pada akhir November 1945 diadakan pertemuan-pertemuan penggugah semangat juang antara perintis Pasukan Pelajar IMAM, anggota Pasukan Pelajar IMAM yang baru kembali dari daerah pertempuran dengan para pelajar yang berniat untuk masuk menjadi anggota Pasukan Pelajar IMAM. Pertemuan dilaksanakan beberapa kali dengan mengambil tempat secara bergantian di rumah Soeparjo, rumah Soegihartono, rumah Djahidin maupun di aula SMP Laki-laki.
Dengan sistem gethok tular atau dari mulut ke mulut, secara lisan undangan disebar-luaskan, yang akhirnya pada minggu kedua bulan Desember 1945 dengan mengambil tempat di rumah Soeprapto di jalan Pesayangan Purwokerto diadakanlah pertemuan antara perintis Pasukan Pelajar IMAM, anggota Pasukan Pelajar IMAM yang baru kembali dari daerah pertempuran dengan para pelajar yang berniat untuk masuk menjadi anggota Pasukan Pelajar IMAM yang dihadiri oleh sekitar 35 orang.
Adapun hasil dari pertemuan tersebut antara lain:
1.    Mengukuhkan kembali wadah perjuangan bagi para pelajar yang berniat untuk ikut berjuang menegakkan kemerdekaan RI;
2.  Wadah tersebut adalah tetap Pasukan Pelajar Indonesia Merdeka Atau Mati atau yang disingkat dengan Pasukan Pelajar IMAM;
3.   Memantapkan tujuan organisasi untuk tetap ikut mempertahankan kemerdekaan di bawah naungan panji TKR/TNI, tanpa mengikuti politik atau aliran/paham tertentu;
4. Menetapkan tanda gambar dengan cap yang bulat dengan kata-kata PEMOEDA IMAM. POERWOKERTO di sisinya, dan kepala banteng merunduk/menyeruduk di tengahnya.
Dengan dirubahnya nama organisasi Pasukan Pelajar IMAM menjadi PEMOEDA IMAM. POERWOKERTO atau PASUKAN IMAM, maka semakin terbukalah keanggotaannya, dalam arti tidak terbatas pada kaum pelajar, yang pada umumnya anak dari pegawai negeri saja, tapi para pemuda baik anak petani maupun anak pedagang, dapat menjadi anggotanya. Hal ini ditetapkan dalam rapat paripurna pada hari Kamis tanggal 20 Desember 1945 dengan mengambil tempat di gedung Yosodarmo dan dihadiri oleh sekitar 60 orang anggotanya. Dengan demikian tanggal 20 Desember 1945 ditetapkan dan diakui sebagai Hari Jadi PEMOEDA IMAM. POERWOKERTO.
Pertempuran
Pertempuran-pertempuran yang dialami oleh Pasukan IMAM antara lain adalah:
1. Palagan Ambarawa: September – November 1945
a.   Satu pasukan IMAM (Sidharta, Soewarso, Soedarto dan kawan-kawan) ikut Batalyon Imam Adrongi Divisi V TKR menggempur Sekutu di Magelang. Setelah musuh mundur ke Ambarara, Pasukan IMAM ikut menggempur musuh di Ambarawa.
b.  Tanggal 26 September 1945, sewaktu serah terima komandan Divisi V TKR dari Mayor Imam Adrongi ke Letkol. Isdiman di desa Kelurahan Ambarawa Selatan, Letkol Isdiman dan Soetoyo (anggota Pasukan IMAM) gugur karena serangan udara.
2. Palagan Semarang Barat: Desember 1945 – Februari 1946
a.  Pada tanggal 1 Januari 1946 Pasukan IMAM Seksi I atau Angkatan I di bawah pimpinan Djahidin menyatu dengan TKR menjadi satu seksi dengan kompi Warsito (Batalyon Purwokerto) dari sektor barat menyerang merebut lapangan terbang Kalibanteng atau bandara A. Yani (sekarang). Namun serangan tersebut gagal, dan dua orang anggota pasukan kita gugur.
b.    Pada tanggal 15 Januari 1946 Pasukan IMAM Seksi II atau Angkatan II di bawah pimpinan Riyanto masuk ke Resiman Kendal dengan komandan Letkol Hendropranoto beberapa kali bertempur melawan patroli Belanda/Inggris di desa Mangkang, Cangkringan dan sebagainya.
c.  Seperti halnya Seksi II, pada tanggal 15 Februari 1946 Seksi III (Angkatan III) di bawah pimpinan Sidharta menyatu dengan salah satu seksi dari Batalyon Sumyuh (Mayor Soenjono) bertempur dengan patrol-patroli musuh (Belanda/Inggris).
3. Palagan Jakarta Tenggara: Juni – Juli 1946
Satu regu Pasukan IMAM ikut batalyon Banyumas pimpinan Mayor Mochamad Wais beroperasi di sekitar Cibinong – Citeureup – Cileungsi.
a.   Pertempuran di sekitar desa Sawahbesar (timur Cibinong) gugur 11 (sebelas) orang prajurit dan gugur juga Kastaf Letnan Irawan.
b.   Menyerang Cileungsi oleh Batalyon Wais. Pertempuran dalam kota Cileungsi mulai pukul 04.00 pagi sampai pukul 09.00.
4. Palagan Bandung Timur: Agustus – September 1946
Satu seksi Pasukan IMAM pimpinan SAT Hartojo ikut Batalyon Brotosiswojo Resimen Cilacap bertugas di sebelah timur Ujungberung desa Gedebage.
5. Pertempuran Prompong: 8 Agustus 1947
Pada pagi hari itu diawali dengan gempuran meriam yang  dipandu oleh pesawat capung, disusul tembakan brent dari kejauhan. Itu adalah pembukaan yang biasa terjadi dalam awal pertempuran, tetapi apa yang menyusul kemudian, sungguh di luar dugaan. Sebelum itu, Belanda selalu mengandalkan keunggulan peralatan seperti tank dan Panser. Tetapi dalam pertempuran Prompong  mereka datang dengan merayap dan menyelinap, tanpa sekalipun mengeluarkan tembakan.  Hal ini sangat mengejutkan pasukan yang dipimpin oleh Mohammad Besar. Pasukan mereka nyaris terjebak. Keadaan  dan situasi yang mendadak  inipun harus dihadapi. Akhirnya pertempuran jarak dekatpun terjadi dengan sengit di tengah ladang jagung milik penduduk. Karena kalah jumlah dan kalah persenjataan  akhirnya  pasukan IMAM pun perlahan lahan mengundurkan diri  sambil membawa jenazah korban yang akhirnya diketahui bahwa Mohammad besar dan Soeparto gugur.

Sumber Informasi
http://bayu-bije69.blogspot.com Sejarah Pasukan IMAM
http://eyang-nardi.blogspot.com/2013/04/riyanto-pahlawan-tak-dikenal.html
http://id-id.facebook.com/Tentara Pelajar/Foto

Monumen Pertempuran Prompong di Desa Kutasari Kes. Baturaden

Makam Riyanto di TPU Kel. Pabuwaran Purwokerto Utara




Kamis, 04 Juni 2015

KIYE BOJONE RIKA ....


Tamba Puyeng


Crita kiye jane kedadeyan nyata, inyong nyekseni dhewek, dadi sebajan wis lawas, inyong tetep kelingan bae. Wektu semana watara tahun 1990-an, jamane Kabupaten Banyumas deprentah neng bupati Bapak Djoko Sudantoko almarhum (muga-muga jembar kubure .. aamiin), persise esuk-esuk neng wulan Puasa mweh bada.
Wektu semana neng kabupaten kena dearani dadi wong anyar, merga suwe (watara 25 taun) neng Jogja kuliah langsung ngodhe melu konsultan lan tembe balik kandhang maning. Sedurunge bali Purwokerto, inyong duwe pikiran lamona kanti pengalaman 15 taun melu konsultan inyong teyeng nyumbangna pikiran nggo kabupaten Banyumas.
Pas tanggal 20 Agustus 1988 inyong dejeki pak Indra (Dekan FT. Unwiku) rapat neng kabupaten, persise neng gedung PKK perlu ngrembug babagan Master Plan Drainase Kota Purwokerto. Wektu semana Ketua Bappeda (pak Masdarsono) karo pak Bupati ya rawuh. Rapat kuwe sepisanan inyong melu rapat neng Kabupaten Banyumas. Kesempatan sing maen kiye tek dadekna momen nggo mamerna inyong kiye sapa. Kanti modal pengalaman taunan ngothak-athik masalah kota, inyong nyinaoni temenan materi rapat kuwe. Akeh cathetan sing tek tulis, idhep-idhep urun rembug, melu mbangun Banyumas.
Mriksani inyong ngomong sing kayane cocok karo penggalihe pak Bupati, ora let suwe, pirang dina sebubare rapat kuwe, inyong detimbali pak Bupati, sing maksude inyong kon ndandani rencana Pengembangan Loka Wisata Baturaden. Sewise tek sinaoni, dhasare anu wong ngeyelan, ibarate inyong kon ngalor tapi inyong malah mlaku ngetan. Kon ndadani rencana Loka Wisata, sing degarap malah Rencana Umum Tata Ruang Kawasan Wisata Baturaden, sing akhire malah detetepna dadi Perda Kabupaten Banyumas No. 9 tahun 1989. Kanti anane perda kuwe pak Bupati malah dadi olih hadiah dhuwit (nggo ngleksanakna rencana) sekang menteri pariwisata bapak Soesilo Soedarman karo lahan sekang bapak Gubernur Jawa Tengah, sing siki dadi terminal Baturaden (cedhek gang Sadar). Terus sekang Pusat olih 3 proyek peningkatan jalan jurusan Baturaden.
Bar kuwe hubungan inyong karo pak Bupati dadi perek, sering deundang rapat neng kabupaten, malah angger pak Bupati arep paparan babagan Baturaden (mbuh neng daerah, Semarang utawane neng Jakarta) inyong kon ndherekna, jerene mbok ana pitakonan sing pak Bupati ora teyeng njawab inyong sing kon njawabna. Inyong gampang ketemu, sasate kapan baen lan neng endi baen bisa ketemu pak Bupati.
Sewijining esuk, ya pas nyedheki bada, inyong arep ngadhep pak Bupati, ningen neng plataran pendhapa wis akeh wong, kayane tukang becak karo tukang jaluk sing jerene anu arep padha deparingi zakat pitrah sekang pak Bupati. Inyong ngadeg neng kadohan karo ngematna. Ora let suwe pak Bupati, ibu Bupati mios sekang dalem kabupaten karo dekawal ajudan.
Sewise uluk salam pak Bupati molahi pidhato, sing maksude kanggone bupati anyar kepengin dadi wong Banyumas, kepengin dadi ramane wong Banyumas lan kepengin teyeng ngendika cara banyumasan. Pak Bupati uga ngendikakna asal-usule lan ora kelalen ngenalna garwane karo ngendika cara panginyongan: “Kiye bojone rika ….”
Pesamuan sing maune anteng meneng dadi rame, wong-wong padha ngguyu cekakakan. Pak Bupati bingung ora ngerti kenang apa wong-wong padha gemuyu. Ajudane terus ngrisiki pak Bupati, lan mbuh apa sing deaturna ajudan. Sing jelas bar kuwe pak Bupati malah dadi melu nggujeng cekakakan. Esuk-esuk wetenge wis kaku ngrungokna pidhatone pak Bupati.
Harian Banyumas, Kamis 4 Juni 2015
Djoko Sudantoko Alm.
 
Bersama warga masyarakat






Kamis, 21 Mei 2015

BENTHIK

Dolanan bocah sing ngemu piwulang werna-werna

Cara jaman sikine, gole ngarani jere benthik kuwe klebu dolanan sing murah meriah. Lha ora arep darani ora meriah kepriwe wong sing dolanan benthik kuwe ora trima mung bocah loro, bisa nganti bocah sepuluh sing debagi dadi rong regu. Pancen jaman gemiyen kena darani ora ana dolanan sing nggo dhewekan, paling ora ya bocah loro, ora kaya dolanane bocah jaman sekiye, nggesruk dhewekan neng senthong. Lewih meriah maning angger dolanan benthik kuwe anu pertandingan utawa tantangan antarane tlatah siji karo tlatah liyane, ya ora ketang tlatah grumbul utawa kopak, mesthi padha nggawa kanca-batir kon padha nonton.
Arep ora murah kepriwe wong mung modhal bilah rong ler, siji dawa karo sijine sing cindhek. Sing dawa ana sing ngarani wilahan dawane watara 50 – 60 cm, dene sing cindhek dejenengi anakan, ukurane biasane sepertelone sing dawa. Ngarah gampange, sing degawe dhisit ya sing cindhek (anakan), tembe gawe sing dawa kanti ukuran ping telune sing cindhek. Dene bahane bisa sekang kayu utawa sekang pring, sing cara inyong gemiyen anu ndadak nyemplek gethek, utawa ndadak nggolet bodholan garan sapu. Kejaba kuwe butuh watu gragal sing meh padha gedhene nggo ganjel anakan angger arep decuthat, karo pethilan genheng nggo papan anakan angger arep pecak lele.
Sedurunge dolanan benthik demolahi, bocah-bocah padha rembugan babagan aturane, seregu kudu ngumpulna biji pira. Babagan aturan dolanan kabeh bocah wis ngerti, dadi ora perlu derembug aning. Bocah-bocah banjur padha nggolet incon (pasangan) dhewek-dhewek sing sekirane babag. Bar kuwe terus padha pingsut karo incone dhewek-dhewek, sing kalah ngumpul karo sing kalah, sing menang ngumpul karo sing menang, terus salah sijine, biasane sing duwe jiwa pemimpin detunjuk dadi pempine, sing cara jaman siki jere dadi kaptene. Lha sapa sing detunjuk dadi pemimpin regune kuwe banjur pingsut nggo nentokna regu endi sing arep labuh utawa main dhisit. Lha tembe dolanan benthik demolahi.
Sejan-jane dolanan benthik kuwe dolanan balapan ngumpulna biji utawa angka kanti nglakoni telung (3) polahan yakuwe: (1) cuthat; (2) iler lan (3) pecak lele, sing neng tlatah sejen dejenengi patil lele.
(1)  Cuthat, yakuwe nyuthat anakan sing wis detumpangna neng gragal sing dejejerna, nganggo wilahan sing wis desedhakna. Gole nyuthat degawe serosa-rosane ben seadoh-adohe lan golet panggonan sing dijrah ora teyeng depancak nang bocah-bocah sing lagi jaga. Angger nganti kepancak, berarti bocah sing main kuwe mati, ora olih nerusna polahan sebanjure. Ningen angger ora kepancak, sing jaga mbalangna anakan kuwe temuju maring wilahan sing wis depasang neng ndhuwur gragal. Angger nganti kena berarti sing main mati, Angger sing jaga teyeng mlodhosna anakan maring ngisor wilahan kanti ora nibakna wilahan, kejaba sing lagi main kuwe mati, juga sing jaga kuwe olih biji.
(2)  Iler, yakuwe nampok anakan nganggo wilanhan. Anakan desogna neng gigir tlapakan tangan, deumbulna semendhing terus detampok laro wilahane. Angger anakan kuwe gisa kepancak neng sing jaga, sing jaga olih biji lan sing main mati, tapi angger ora kepancak anakan kuwe debalangna deusahakna ben mandhege anakan kuwe seperek-pereke karo gragal sing dejerna mau. Lha sing labuh utawa sing main usaha nampok anakan kon ora cedhek karo gragal mau. Sekang panggonan mandhege anakan terus deukur maring panggonan gragal, ketemu pirang tiban kanggo bijine. Gole ngukur kuwe kudu jujur, ora kena menggak-menggok lan wilahan kudu temapak bener neng lemah. Mulane sing jaga kudu ngematna temenan apa gole ngukur kuwe bener apa ora, utawane gole ngetung kuwe nyathut apa ora. Angger dhong iler tibane anakan kuwe ora adoh sekang gragal, lan sing jaga sanggup mlumpati, kuwe sing main mati lan sing jaga uga olih biji, lan bijine kuwe lewih gedhe ketimbang biji plumpatan cuthatan.
(3)  Pecak lele, patil lele utawa cakle, yakuwe mbenthong anakan, angger wis mumbul terus detampok nganggo wilahan. Angger sing labuh kuwe ora teyeng nampok anakan, mati. Gole nampok kuwe ora kudu ping sepisan, tapi olih nggo dolanan dhisit sebisane, tembe detampok seadoh-adohe sekang gragal sekloron. Sengsaya sering gole nampoki anakan, bijine sengsaya gedhe. Sing jaga ngupaya teyeng mancak anakan. Angger anakan kena depancak sing main mati lan sing masang/jaga olih biji. Angger ora kepancak papan mandhege anakan gutul papan jejeran gragal deukur nganggo wilah sing bijine gemantung akehe ping pira gole teyeng nampok anakan sedurunge detampok adoh (tampokan sing pungkasan). Padha karo neng cuthatah utawa iler, neng pecak lele angger nampoke anakan tibane ora adoh sekang jejeran gragal lan teyeng deplumpati neng sing jaga, berarti sing main kuwe mati, lan sing jaga olih biji sing akehe lewih gedhe ketimbang plumpatan neng iler utawane cuthatan.
Kaya kuwe seteruse genti-genten bacah siji karo sijine nganti kabeh bocah seregu mati kabeh, tembe gentenan regu sing mau jaga/masang gentenan main utawa labuh. Tapine angger urung nganti kabeh mati koh regu sing labuh kuwe wis teyeng ngumpulna biji utawa angka sing desepakati sedurunge labuh, berarti regu kuwe menang lan lawane kena ukuman. Dene ukumane kuwe bisa gendhongan utawa mung pengakuan lamona regu kuwe kalah, lan dolanan bisa deterusna maning nganti padha bosen utawa kesel.
Kanti ndeleng kahanan sing ketulis neng ndhuwur kuwe, jebule dolanan benthik kuwe akeh wulangan sing migunani pisan kanggone bocah-bocah, yakuwe bocah delatih/deajari kon:
1.  srawung, guyub-rukun kerja bareng  karo kanca-batir sing sepantaran;
2. berdemokrasi: milih pimpinan, nggawe aturan bareng-bareng, delakoni bareng lan angger ana sing nglanggar kena ukuman;
3.  berperilaku utawa tumindak jujur, ora curang utawa nglomboni maring kanca-batire;
4.  ngakoni menange wong liya lan ngakoni kalahe dhewek kanti nglegawa;
5.  pinter ngetung mligine neng ping-pingan karo gunggungan;
6.  cukatan, trengginas mligine neng nggon: nyuthat, mlumpat, nampok, mancak karo ngincer.


Nyuthat

Iler
 

 Pecak lele

Selasa, 12 Mei 2015

BI Purwokerto Gelar Diskusi Pengentasan UMKM Batik



 Motif kain batik produk Desa Papringan

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto selain bertugas utama dalam bidang moneter di wilayah kerjanya, juga mempunyai tugas lain dalam bidang pemberdayaan ekonomi riil dan UMKM. Satu di antara kiprahnya adalah memberdayakan para perajin batik di desa Papringan Kecamatan Banyumas. Diharapkan, setelah dibina desa tersebut akan menjadi sentra usaha batik dan para perajinnya meningkat menjadi pelaku usaha kerajinan batik.
Atas prakarsa Djoko Djuniwarto pembina kegiatan sekaligus Humas Kantor Perwakilan BI  Purwokerto, pada Senin (11/5) telah berlangsung diskusi kecil mengevaluasi pemberdayaan UMKM kerajinan batik di desa Papringan. Diskusi ini dihadiri oleh pengamat budaya Banyumas Ir Sunardi MT, Teguh Waluyo fasilitator PNPM yang telah lama giat di wilayah Kecamatan Banyumas, Indra Gunawan penggiat usaha penerbitan buku di Banyumas dan dimoderatori oleh Hari Wiyanto kolomnis “Banyumas Gaul” harian SatelitPos. Diskusi berlangsung dengan santai, tetapi menghasilkam ide dan gagasan yang bernas.
Diskusi dimulai dengan pemaparan progres terakhir dari kegiatan pembinaan UMKM di desa Papringan yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan BI Purwokerto. Menurut Djoko Djuniwarto, berbagai upaya dan kiat telah dilancarkan untuk memberdayakan para perajin, namun para perajin belum juga mandiri menjadi pelaku usaha kerajinan batik. Sampai detik ini instansinya tidak menyerah untuk terus melakukan pembinaan.
Ir Sunadi MT, yang lebih dikenal dengan sapaan Eyang Nardi menjadi bintang dalam diskusi  yang dimulai jam 10.00 – 12.00 WIB. Menurut “kesepuhan” yang kepalanya kerap mengenakan iket kepala batik kemanapun Ia pergi, para perajin perlu menurunkan kualitas produknya. Artinya, jangan hanya memproduksi batik tulis saja, akan tetapi juga memproduksi batik cap. Dengan demikian, maka konsumennya  akan bervariasi, nantinya akan terdiri dari  para PNS dan pegawai swasta yang akan memakai untuk pakaian kerjanya pada hari-hari tertentu. Diharapkan juga, ada diversifikasi produk dengan memproduksi tas batik untuk seminar, asesories seperti iket kepala, serta produk yang fungsional seperti taplak meja dan produk lainnya. Di samping kiat-kiat diversifikasi produk, Eyang Nardi juga menekankan perlu keterlibatan sektoral yang lebih signifikan antar lembaga pemerintah dan lembaga swasta.
Kenapa pemberdayaan para perajin batik Papringan demikian alotnya? Menurut Eyang Nardi, sebetulnya pembinaan pada sektor UMKM batik di desa Papringan telah berlangsung sejak tahun 2007. Pencetusan ide pemberdayaan ini merupakan kegiatan satu paket dengan  tujuan menjadikan Banyumas Kota Tua sebagai tujuan wisata budaya, di mana batik Papringan sebagai produk cinderamatanya. Seandainya ide dan gagasan Banyumas Kota Tua telah terwujud, tentu saja pemberdayaaan UMKM tidak berlangsung dengan alotnya. Oleh sebab itu, selain memerlukan usaha diversifikasi produk juga memerlukan kiat pemasaran yang jitu.
Dalam diskusi ini, Djoko  Djuniwarto juga menyisipkan kegiatan Kantor BI Purwokerto dalam pembinaan pemberdayaan sektor riil dan UMKM pada peserta diskusi yang sedang berlangsung di desa Pegalongan Kecamatan Patikraja yang telah panen perdana. Kegiatan pemberdayaan ini berupa penanaman padi dengan metode ombol atau Hazton. Menurutnya, metode ini telah sukses diterapkan pada lahan padi di daerah Pontianak tempat Ia berdinas sebelumnya. Jika ditanam dengan metode biasa, satu hektar akan menghasilkan kisaran 4 ton. Akan tetapi jika ditanam dengan metode ombol atau metode Hazton akan menghasilkan panenan pada kisaran 9 ton.
Djoko Djuniwarto mengharapkan asupan ide dan gagasan dari peserta diskusi, agar panen kedua dan tanam padi ke tiga metode ombol di desa Pegalongan berlangsung dengan rangkaian ritual muatan-muatan lokal Banyumas. Di antaranya ritual budaya kepungan  ketika menjelang panen, gubrag lesung setelah panen dan kepungan menjelang tanam
SatelitPost, Selasa Legi 12 Mei 2015

Minggu, 10 Mei 2015

Ibu Yeti Umiasih




Yang saya tahu tentang beliau .. Nama Ny. Yeti Umiasih, cucu buyut dari KPAA. Gandasoebrata (mantan bupati Banyumas tahun 1913 - 1933). Bersama suaminya tinggal di dalem kepangeranan jl. Budi Utomo Banyumas. Semedulur, anggun dan berwibawa. Dengan penuh ketekunan dan kepedulian, beliau berusaha merawat dan melestarikan benda-benda (cagar budaya) peninggalan leluhurnya. Meninggal hari Sabtu 9 Mei 2015 jam 20.30 dan dimakamkan di pemakaman keluarga Mertadiredjan Kalibogor Purwokerto. Semoga Allah memaafkan segala salah dan dosanya, dan menempatkannya di sisi-Nya. Alfatikhah .. Aamiin

 KPAA. Gandasoebrata

 Bersama suami

 Dalem kepangeranan

Kenangan yang takan pernah terlupakan