Selasa, 05 April 2016

GANG SADAR .... OH NASIBMU

Bagi masyarakat Banyumas, khususnya masyarakat Baturaden sudah tidak asing lagi dan sangat mengetahui apa dan di mana Gang Sadar itu. Masyarakat juga sudah sadar sesadar-sadarnya, apa dampak negatif yang ditimbulkan dari aktivitas yang dilakukan di sana. Lebih banyak sisi negatif dari pada sisi positifnya. Karenanya sebagian masyarakat menghendaki agar Gang Sadar ditutup, yang maksudnya bukan menutup gang Sadar sehingga orang tidak bisa lewat, tetapi meniadakan kegiatan (prostitusi) di daerah itu .
Dari aspek ekonomi, yang kegiatan prostitusi didasarkan hubungan supply and demand. Tekanan ekonomi sebagai akibat ditinggal suami merupakan alasan klasik untuk timbulnya prostitusi, yang akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan keadaan (kuantitas dan kualitas kehidupan) manusia khususnya di daerah-daerah perkotaan.
Disadari bahwa prostitusi ditinjau dari sudut manapun merupakan suatu kegiatan yang berdampak tidak baik (negatif). Dampak negatif tersebut antara lain: (a) secara sosiologis prostitusi merupakan perbuatan amoral yang bertentangan dengan norma dan etika yang ada di dalam masyarakat; (b) dari aspek pendidikan, prostitusi merupakan kegiatan yang demoralisasi; (c) dari aspek kewanitaan, prostitusi merupakan kegiatan yang merendahkan martabat wanita; (d) dari aspek ekonomi, prostitusi dalam prakteknya sering terjadi pemerasan tenaga kerja; (e) dari aspek kesehatan, praktek prostitusi merupakan media yang sangat efektif untuk menularnya penyakit kelamin dan kandungan yang sangat berbahaya; (f) dari aspek kamtibmas, praktek prostitusi dapat menimbulkan kegiatan-kegiatan kriminal; dan (g) dari aspek penataan kota, prostitusi dapat menurunkan kualitas dan estetika lingkungan perkotaan.
Namun tanpa memperhatikan dampak negatif yang ditimbulkan, serta haram dan halalnya uang yang mereka peroleh, suatu kenyataan bahwa dari praktek prostitusi mereka dapat menghidupi dirinya dan keluarganya, dan bahkan dapat menyekolahkan anak atau dirinya, serta membangun rumahnya.
Sudah banyak upaya menghapuskan praktek prostitusi dari lingkungan pergaulan masyarakat. Namun kenyataannya prostitusi masih tetap ada. Beberapa usaha dan tindakan pemerintah dalam menangani permasalahan dan dampak negatif prostitusi adalah:
1. Secara represif, yang antara lain: (a) merealisasi ketentuan hukum pidana terhadap pelanggarnya, (b) tidakan pengawasan, pengaturan dan pencegahan penyakit yang ditimbulkan karena praktek prostitusi;
2.  Secara preventif, yang antara lain: (a) penyelenggaraan pendidikan seks di sekolah, (b) penyuluhan bahaya penyakit yang diakibatkan oleh praktek prostitusi, (c) pertolongan psikhologis-psikhiatris terhadap para gadis yang menunjukkan gejala kedewasaan kehidupan seksual dan bantuan perawatan anak-anak di sekolah.
Namun kiranya kegiatan-kegiatan tersebut belum menampakkan hasilnya, sehingga perlu ditingkatkan baik secara intensif maupun ekstensif.
Selain hal-hal tersebut di atas, kewajiban lain dari pemerintah adalah menentukan lokasi lokalisasi prostitusi, yaitu tempat yang terpencil, yang akan dikembangkan. Dengan lokasi yang terpencil tersebut diharapkan akan dapat mengurangi/ memperkecil kunjungan tujuan laki-laki hidung belang untuk praktek prostitusi.
Diyakini bahwa dengan adanya lokalisasi di daerah terpencil tersebut, di sekitar area lokalisasi akan tumbuh berbagai fasilitas pelayanan, dan terus akan berkembang, seperti kata pepatah: ada gula ada semut. Setelah hidup berkembang sebagai layaknya suatu daerah hunian, lokalisasi dipindahkan ke tempat baru yang terpencil juga, dan akan berkembang lagi. Demikian seterusnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prostitusi merupakan pionir pengembangan daerah/kawasan.
Suatu dilemma, bahwa telah disadari dari aspek apapun prostitusi merupakan suatu hal yang negatif, namun sangat sulit atau bahkan mungkin tidak dapat dihilangkan dari kehidupan masyarakat atau merupakan penyakit mayarakat. Karenanya permasalahan prostitusi bukan hanya merupakan permasalahan pemerintah khususnya dinas/instansi terkait, tetapi juga permasalahan mayarakat secara umum. Agar dampak negatif prostitusi tidak menyebar atau menular ke lingkungan sekitar, maka diperlukan berbagai pembatasan dalam prakteknya, yang antara lain melalui lokalisasi prostitusi.
Sejak tahun 1989 sewaktu membahas raperda tentang Rencana Umum Tata Ruang Kawasan Wisata Baturaden yaitu Peraturan Daerah Kabupaten Bayumas  No. 9 tahun 1989 juga telah dibahas masalah tersebut. Andaikan mau diadakan lokalisasi prostitus, disarankan di daerah terpencil seperti di Monggangsari. Kesimpulan akhir bahwa secara hukum tidak disebutkan adanya lokalisasi prostitusi, tapi ada pembinan terhadap penghuni gang Sadar.
Menutup Gang Sadar bukan mengatasi masalah, tetapi memindahkan masalah, yang justru akan lebih sulit mengatasi atau memperkecil dampak negatif yang ditimbulkan. Menutup Gang Sadar (lokalisasi prostitusi) ibarat menutup TPA (Tempat Pembuangan Akhir sampah), atau menutup saluran riool kota, yang akibatnya sampah dan bau kotoran akan berserakan ke seluruh kawasan. Sudah siapkah kita mengatasi bau busuk dari sampah dan kotoan yang berserakkan di lingkungan kita? Itulah masalah kita bersama.
Lokalisasi sebagai tempat penampungan dan praktek prostitusi merupakan tempat pembinaan dan pengentasan prostitusi, yang keberhasilannya sangat tergantung pada peranserta berbagai pihak terkait (lembaga dan instansi dan masyarakat). Berbagai kegiatan yang dilaksanakan di lokalisasi prostitusi antara lain:
1.  Pendidikan budi pekerti/moral dan agama, dengan harapan agar peserta dapat memahami dan menyadari akan etika, dan norma-norma yang ada di dalam mayarakat.
2.  Pendidikan ilmu pengetahuan dasar dan keterampilan kerja, dengan tujuan agar peserta dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna sebagai modal dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
3.  Pengetahuan kesehatan, dengan tujuan agar peserta mengetahui dan menjaga diri dari terjangkitnya penyakit sebagai akibat hubungan seks bebas.
4.  Permodalan dengan tujuan agar peserta (germo dan penjaja seks) dapat mengetahui cara/ prosedur memperoleh kredit modal kerja.
5.  Sosial/kemasyarakatan, dengan tujuan agar peserta mengetahui hak dan kewajiban warga mayarakat dalam hidup bermasyarakat secara rukun damai, dan dapat menerima mantan germo dan penjaja seks.
Kegiatan-kegiatan tersebut oleh berbagai pihak yang terkait secara terpadu dilaksanakan dan dievaluasi/dimonitor secara berkesinambungan keberhasilannya.





Minggu, 03 April 2016

Irunge Badrun Kelebon Klentheng



Jane inyong ya prihatin weruh kahanan jaman sekiye. Boro-boro bocah padha basa, padha ngajeni maring wong sing lewih tuwa, wong maring rama biyung utawa maring bapak ibu gurune be wis kaya ora ngajeni babar blas. Senenge padha ngumpul neng gili, udud-ududan malah cokan karo inum-inuman, ngomong genthoakan ora nggenah, dearuh-aruhi malah padha jengkel.
Neng ngumah ya padha baen. Boro-boro maring kakang mbekayune padha gelem salaman, wong maring rama biyunge be angger ketemu mlengos.. Senenge neng senthong kit esuk gutul sore dolanan hape. Angger deundang arep deprentah wangsulane jere “ya ngko”. Jar inyong yangko kuwe kan panganan asli Jogja, mulane banjur tek semauri “geplak kiye” (geplak uga panganan asli Jogja).
Babagan nyumedi lampu, jaman inyong bujang, urung ana listrik. Saben sore inyong kudu nyiapna petromak, lampu, senthir utawa ting, sing kudu diseni latung, delapi kaca utawa sempronge. Sendhekala kabeh kudu wis murub. Lha bocah jaman siki, kadar mung kari nyeklekna saklar be angele ora karuwan, Mulane inyong cokan ngarani bocah siki kuwe “seneng metengi tapi emoh kon madhangi”.
Babagan panganan bocah siki ya sering njengkelna biyunge. Biyunge repot-repot wis mantes, bali sekolah, panas-panas, kesel-kesel, kencot mantesen madhang lawuh tegehan kuwe seger pisan. E, jerene wis mampir jajan bakso apa tuku roti. Mubah olah-olahane.
Babagan basa pedinan ya repot maning. Neng sekolahan basa pengantare nganggo bahasa Indonesia. Lha angger inyong ngajari anak inyong basa pedinan neng umah nganggo basa Jawa, bocahe neng sekolahan ya kudu mikir ping pindho. Sepisan nerjemahna soal wulangan, angger wis mudheng tembe mikir kepriwe carane nggarap soal wulangan kuwe mau. Gegandhengan karo kuwe mau, mulane anak inyong neng ngumah ya deajari basa Indonesia ben ora kangelan neng sekolahan.
Babagan anggah-ungguh karo wulangan basa Jawa ya kepaksane desinaoni neng dhewek. Inyong ya pancen madan kewalahan ngajari anak inyong dhewek. Apa maning sekolah neng kota, sing batir srawungane utawa batir dolanane kuwe ya werna-werna, ana Jawa, lan akeh uga Cinane, dadine ya budhayane campuran.
Sewijining dina inyong lagi nyinaoni wulangan basa Jawa, sing tek wiwiti sekang kon maca ukara-ukara basa Jawa. Sewise anak inyong kon mbukak buku piwulang basa Jawa, sing neng kono ana sewijining ukara sing tulisane “Irunge Badrun kelebon klenteng”.Neng batin inyong wis mbedhek lamona anak inyong pas maca ukara kuwe mesthi salah.
Temenan. Mbareng anak inyong maca ukara kuwe monine koh: “Irunge Badrun kelebon klentheng” (nganggo e taling) sing artine umah panggonan ibadah Cina. Inyong ora teyeng mbayangna sepira ambane bolongan irunge Badrun. Mbangkane janen sing demaksud kuwe ya irunge Badrun kelebon klentheng (nganggo e pepet) sing maksude wiji kapuk randhu.
 




Kamis, 31 Maret 2016

SARWA LORO



Akhir-akhir kiye iyong cokan detakoni neng wong pendatang neng Purwokerto utawane  neng tlatah Kabupaten Banyumas liyane. Pitakonane pancen sedherhana alias ora ndakik-ndakik yakuwe “Kenang apa neng Kabupaten Banyumas kiye koh sarwa loro, ana alun-alun loro, pendhapa loro, kantor kejaksaan negeri loro, kantor pengadilan negeri lan pengadilan agama ya loro-loro klebu penjara ya loro”.
Blakan baen maune dhong egin enom inyong ya gumun weruh kahanan sing ora umum kaya kuwe. Dhong sekolah gemiyen pak guru utawa bu guru urung tau mulang babagan kaya kuwe. Rama utawa biyunge inyong ya urung tau crita babagan sing kaya kuwe. Arep takon maring sapa maning embuh inyong ora ngerti.
Alhamdulillah, untunge sewijing dina inyong kedhayohan sahabat sing uga dadi guru inyong, ya kuwe pak Soegeng Wijono. Maksud inyong dudu guru neng sekolahan, tapi guru neng lapangan, merga piyambake kuwe sugih ora mung foto-foto kuna, tapi uga dokumen-dokumen kuna sing inyong ora ngerti. Kanti modal foto karo dokumen kuna kuwe pak Soegeng nyritakna kahanan tlatah Banyumas
Taun 1830 sebubare perang Diponegoro sing demenangna neng tentara Landa, tlatah Banyumas neng kraton Solo depasrahna maring pemerintahan Landa, dadi gadhen Landa nggo nyaur biaya perang sing detokna Landa kuwe. Tlatah Banyumas sing maune tanah perdhikan molahi taun 1830 dadi tanah jajahan Landa.
Tanggal 1 November 1830, De Sturter tetepna dadi Residen Banyumas sepisanan. Residen De Sturter netepna 5 tlatah kabupaten ya kuwe:
1.  Kabupaten Banyumas mbawahi tlatah: Banyumas, Adireja. Purworejo Klampok;
2.  Kabupaten Ajibarang mbawahi tlatah: Purwokerto, Ajibarang, Jambu, Jatilawang;
3. Kabupaten Purbalingga mbawahi tlatah: Purbalingga, Sukaraja, Kertanegara Bobotsari, Cahyana;
4. Kabupaten Banjarnegara mbawahi tlatah: Banjar, Singamerta, Leksana, Batur, Karangkobar,
5.  Kabupaten Dayeuhluhur mbawahi tlatah: Majenang, Dayeuhluhur, Pegadingan, Jeruklegi.
Kanggo njaga kawibawan lan kelanggengan pemrentahan, Landa terus mbangun dalem kabupaten kumplit karo alun-alune, kantor kejaksaan, kantor pengadilan lan uga penjara neng saben ibukota kabupaten.
Mung emane ora ganti suwe sebubare penetepan kuwe, neng Ajibarang ana brubugan gedhe, mulane dalem kabupatene boyong maring Purwokerto. Bar kuwe kantor wakil residen, kantor kejaksaan, pengadilan lan penjara debangun neng Purwokerto.
Taun 1935 ana krisis malaise, sing wong Jawa nyebut “jaman mleset”. Merga kekurangan dhuwit nggo mbayar pegawe-pegawene, mulane Pemrentah Landa mbusek pemrentahan Kabupaten Purwokwerto, degabung dadi siji karo Kabupaten Banyumas, dejenengi Kabupaten Banyumas. Tapine kantor kejaksaan karo kantor pengadilan lan penjarane tetep deuripna nganti seprene.
Kapetung molahi tanggal 1 Januari 1936 Karesidenan Banyumas ung mbawahi tlatah 4 kabupaten ya kuwe Kabupaten-kabupaten: Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, karo Cilacap, sing ambane tetep kaya sedurunge ana gabungan rong kabupaten mau. Tanggal 7 Januari 1937 ora let suwe sewise mboyongna pendhapa Si Panji, bupati Banyumas RAA. Sujiman Gandasubrata (1933 - 1950) boyong sekang Banyumas maring Purwokerto.

Dalan tengah alun-alun Banyumas
 Dalan tengah alun-alun Purwokerto (sedurunge detutup)






Kamis, 24 Maret 2016

BENGI



Wingi bengi malem Minggu Wage
kit sore giline wis keton rame
ting sliwer montor ora ana pedhote
ngalor ngidul mboncengna pacare

Sengsaya bengi giline sengsaya sepi
sing regeng warung remeng Yu Sri
nyruput kopi karo nyendhok bakmi
nggo nolak adheming hawa bengi

Malem Setu Pon bengi sedurunge
setasiun karo terminal sing keton rame
akeh wong prantoan sing bali ngodhe
bali ketemu maning karo anak bojone

Malem Senen kuwe bengi mbebehi
ati egin kangen ningen kudu mulih
mring kodhean sing wis kepilih
ninggal anak bojo kanti ati sedhih

Senen Rebo klebu bengine Slasa
ninggal umah krasa wis biasa
anak bojo detinggal ora nelangsa
sing lanang ngodhe wis ra rekasa

Kemis bengi alias malem Jemuah
ana sing ngarani bengi kebek berkah
asal sing iklas gole padha ngibadah
aja mung mikir mring sunah Rasulullah

Paling rekasa rondha Kemis bengi
apa maning persis Kemis wage bengi
githok mrinding sikil kaya degandhuli
lewih-lewih angger tes ana wong mati

Pancen becike eling welinge rama kyai
saben bengi tangi neng tengah wengi
shalat bengi nyenyuwun mring Gusti
mrih slamet uripe karo tambahan rejeki