Jumat, 09 Agustus 2013

BRUG GANTUNG BATURADEN AMBROL



Suara Merdeka, Jumat, 27 Oktober 2006
Tujuh Pengelola Diperiksa
Baja Sling Sudah Lama Rusak

PURWOKERTO - Menyusul ambrolnya jembatan gantung Lokawisata Baturraden, Polres Banyumas telah memeriksa tujuh orang yang bertanggung jawab atas pengelolaan jembatan itu. Mereka diperiksa dengan kapasitas sebagai saksi.
Ketujuh orang itu adalah karyawan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Banyumas yang bertugas sebagai pengontrol jembatanTarikun dan Tarso, Kepala Bidang Objek dan Pemasaran Wisata Disparbud Darwis Cahyono, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lokawisata Baturraden Joko Haryanto, serta karyawan bagian tata usaha dan petugas kebersihan Lokawisata Rustam, Rohadi, dan Surono.
Kapolda Jateng Irjen Drs Dody Sumantyawan HS SH didampingi Kapolwil Banyumas Kombes Drs Emron Putra Agung dan Kapolres Banyumas AKBP Drs Suherman, kemarin meninjau jembatan gantung yang ambrol itu.
Dody menyatakan setiap ada peristiwa apalagi sampai menimbulkan korban jiwa, polisi sudah pasti akan menggelar penyelidikan. Hal itu dilakukan untuk mengetahui kenapa peristiwa tersebut bisa terjadi.
Saksi Ahli
Saat ini, penyelidikan masih berjalan. Polisi tak hanya memeriksa pihak pengelola, tetapi juga memerintahkan Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Cabang Semarang untuk melakukan penelitian. Polisi pun akan meminta keterangan dari saksi ahli dari Dinas Pekerjaan Umum.
"Penyelidikan itu untuk mengetahui apakah terdapat unsur pidana dalam peristiwa tersebut. Meski bukan karena faktor kesengajaan, tetap harus digali apakah ada kelalaian atau tidak. Kalau ada, siapa yang lalai," ujar dia.
Hingga kemarin, jajaran Polres Banyumas telah memeriksa empat orang yang ikut bertanggung jawab atas pengelolaan jembatan gantung, serta tiga orang yang mengetahui saat jembatan itu ambrol.
Kasat Reskrim AKP Widada menambahkan, empat pengelola yang diperiksa sebagai saksi mengaku selama ini jembatan gantung tidak dikontrol dan diawasi secara baik dan benar.
Polisi yang melakukan pemeriksaan di lokasi juga mendapati baja sling jembatan sudah bertahun-tahun rantas, banyak satuan kawat baja yang putus. Namun kondisi ini dibiarkan saja dan tak pernah dikontrol.
"Polisi sudah mengambil potongan baja sling yang rantas. Baja sling itu rantas bukan hanya saat jembatan ambrol. Sling sudah bertahun-tahun rantas dan dibiarkan, tanpa upaya perbaikan," ujar dia.
Jembatan gantung Lokawisata Baturraden itu yang memiliki panjang 25 meter dan lebar satu meter itu membentang di atas Sungai Gumawang dengan ketinggian 20 meter dari permukaan sungai. Jembatan itu juga sudah berusia 23 tahun. Menurut mantan Kepala Badan Pengelola Objek Wisata Baturraden (1967-1990) Soegeng Wijono, ide membangun jembatan itu muncul pada tahun 1974 atau saat era kepemimpinan Bupati Pujadi Jaring Bandayuda.
Saat itu diputuskan Baturraden bakal menjadi "gula" bagi pengembangan Banyumas wilayah utara. Karena itu, fasilitas Baturraden harus ditambah agar mempermudah wisatawan. Sebuah jembatan gantung dirancang sebagai penghubung antara kawasan lokawisata dan bumi perkemahan. Dengan jembatan itu, wisatawan tidak perlu memutar jauh. Saat dibangun, jembatan itu memang dirancang hanya untuk 10 orang, sehingga ada rambu-rambu dan dijaga oleh petugas pengawas. Orang juga tidak boleh berhenti di jembatan karena beban akan terkonsentrasi di satu titik. Pembangunannya baru terealisasi saat kepemimpinan Bupati Rudjito pada tahun 1983.
Saat kejadian, di atas jembatan terdapat 50 pengunjung lebih. Memang ketika Lebaran, tidak hanya jembatan yang kelebihan muatan. "Baik jalan maupun lapangan parkir di Baturraden pasti kelebihan muatan. Karena itu, jembatan harus selalu dikontrol sebelum Lebaran. Jembatan juga pernah ditutup karena rusak. Namun terkadang, pengunjung tidak peduli dengan peringatan petugas," ujar dia.
Soegeng mengalami sendiri, pengunjung tidak menggubris peringatan petugas. "Anak laki-laki sering menggoyang-goyang jembatan gantung yang sedang terbebani pengunjung. Saat saya peringatkan, mereka malah bilang, biarin kami kan sudah bayar," tutur dia.
Kapolda Jateng mengungkapkan penyesalannya atas musibah yang menelan korban jiwa itu. Dia meminta peristiwa tersebut menjadi pelajaran agar pada masa mendatang, pengelola objek wisata atau tempat rekreasi lebih mempersiapkan sarana serta fasilitas agar tidak terjadi kecelakaan. 
Salah satu saran dia sampaikan, ketika sudah diperbaiki, di mulut jembatan gantung itu dipasangi tulisan kapasitas muatannya dan dilakukan pengawasan serta pemeliharaan secara rutin.
Sementara itu, satu lagi korban yang dirawat di rumah sakit, kemarin pagi meninggal. Korban terakhir itu adalah Slamet Wahyudi (30) warga Desa Kedunglegok, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga.
Dengan demikian, hingga semalam, korban meninggal akibat jembatan ambrol menjadi tujuh orang. Mereka adalah Endang (16) warga Kadokan Agung Kecamatan Kadokan Bunder Kabupaten Indramayu, Suzana (30) warga Jl Sampangan Gang 2 No 1 Pekalongan, Yuli Puspasari (32) yang sedang hamil lima bulan asal Jl Sampangan Gang 2 No 1 Pekalongan, Sudiyati (24) warga Cikarang Jawa Barat, Safitri (18) asal Kadokan Agung Kecamatan Kadokan Bundar Indramayu, Vina (5) asal Jl Sampangan Gang 2 No 1 Pekalongan, Slamet Wahyudi (30) asal Kemangkon Purbalingga.
Selain tewas akibat jembatan ambrol, seorang lagi Miftahudin meninggal karena tenggelam di kedung Sungai Sungai Gumawang. Dengan demikian, dalam tragedi yang terjadi di Baturraden, jumlah korban tewas mencapai 8 orang. Untuk korban luka-luka, dari 14 orang yang semula dibawa ke RSU Wijayakusuma, kini tersisa enam orang yang masih harus dirawat. Seorang pasien, Kris Nataniel (5) asal Pekalongan yang tulang pahanya patah, dirujuk ke Solo. Sementara dari 9 korban luka-luka yang dirawat di RSUD Margono Soekarjo, lima di antaranya sedang menjalani persiapan bedah tulang dan syaraf. Empat orang lainnya berangsur-angsur membaik dan pada hari Jumat (27/10) ini diizinkan pulang.
Sekda Banyumas Singgih Wiranto mengatakan, seluruh biaya pengobatan dan perawatan korban ditanggung Pemkab Banyumas. Korban meninggal juga akan menerima santunan, Rp 5 juta/orang. Jenazah mereka pun sudah diantar hingga rumah masing-masing.
Menyusul peristiwa tragis tersebut, personel pengamanan terpadu di kawasan wisata Baturraden, kemarin ditambah. Selain aparat Brimob dari Polwil, juga dilibatkan polwan dan LSM untuk memandu para wisatawan saat berada di dalam lokawisata Baturraden.
Sejumlah polwan memakai megaphone saat meminta pengunjung untuk tidak mendekati lokasi-lokasi yang rawan, seperti tebing sungai, sungai, kolam renang, dan lokasi perbukitan. Hal itu dilakukan karena pengunjung terus membeludak sedangkan jumlah petugas Dinas Pariwisata terbatas.
Bupati Banyumas HM Aris Setiono mengatakan, atas kejadian itu, Gubernur Jateng Mardiyanto mengintruksikan kepada semua kepala daerah yang wilayahnya memiliki objek wisata untuk memantau dan meminta para wisatawan agar tidak mendekati tempat-tempat yang rawan kecelakaan.
Ahli planologi Fakultas Teknik Unwiku Ir. Sunardi, MT. menjelaskan, putusnya sling jembatan gantung itu merupakan cerminan umum masyarakat Indonesia. "Masyarakat kita memang bisa membangun, tetapi sering mengabaikan pemeliharaan," ujar dia, kemarin.
Ketua Harian Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) Didi Rudwianto mengatakan, rehabilitasi terakhir jembatan gantung dilakukan pada tahun 2005 lalu. Hal itu dilakukan untuk mempercantik wajah bangunan. Yakni, dicat dan dicek kondisi kawat-kawat slingnya.
"Sejak dibangun hingga sekarang, sudah dua kali diperbaiki, antara lain pada tahun 1988. Namun itu hanya untuk perawatan dan pemeliharaan," ujar dia. Pemkab pun berencana membuat jembatan permanen sebagai pengganti jembatan gantung. (G23,G22,shs,P16-42,46m)

JADI TONTONAN:Lokasi jembatan gantung yang ambrol menjadi tontonan para pengunjung Lokawisata Baturraden, Kamis (26/10). Para pengunjung kebanyakan melihat lokasi jembatan yang ambrol itu dari Sungai Gumawang yang mengalir di bawahnya.(30a)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar