Sabtu, 20 April 2013

MAHESA CINANCANG DHADHUNG ADI



Banyak orang mengatakan bahwa masyarakat Banyumas mempunyai karakter seperti tokoh wayang Bawor. Dalam dunia pewayangan, khususnya di daerah Banyumas, Bawor merupakan salah seorang dari 4 (empat) keluarga punakawan yang mengabdi pada kebenaran dan keadilan. Bawor, anak sulung ki Semar mempunyai sifat yang cablaka, berbicara secara obyektif, apa adanya. Bawor mempunyai pandangan yang cukup luas dan kritis terhadap kondisi lingkungan sekitar. Namun demikian banyak pihak yang kurang sepaham terhadap Bawor sebagai mascot Banyumas. Atau sebaiknya bahwa masyarakat Banyumas telah luntur dengan sifat ke-cablaka -annya. Budaya Barat dengan teknologi yang canggih telah merubah perilaku masyarakat menjadi seperti mesin yang   “canggih” atau ngapurancang dan enggih-enggih, tanpa mau mengembangkan budaya sendiri yang bersumber dari pikiran (rasio) dan perasaan (emosi) sendiri.
 
Mahesa, kebo atau kerbau 

Selain tokoh Bawor sebagai mascot Banyumas, konon, jaman dulu Sultan Agung Mataram pernah mengatakan bahwa masyarakat Banyumas itu: ”kadya mahesa cinancang dhadhung adhi (seperti seekor kerbau yang diikat oleh tali yang baik). Walau hanya merupakan kalimat pendek, tetapi kalau ditelaah lebih mendalam, mempunyai maksud yang positif baik dalam kehidupan sehari-hari maupun pada masa-masa yang akan datang.
Kerbau merupakan hewan ternak sahabat petani dengan karakter antara lain:

Berbadan dan tenaga yang besar. 
Dengan kata lain bahwa kerbau merupakan suatu potensi yang cukup besar. Pemelihara kerbau tahu benar akan potensi ini. Artinya bahwa Banyumas baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia dengan kekhasan budayanya merupakan suatu potensi yang besar dan dapat diunggulkan dibanding daerah lain.

Dalam hidupnya, kerbau tidak tahan atau tidak suka kepada suasana yang panas. 

Artinya, masyarakat Banyumas pada umumnya tidak menghendaki ada atau terjadinya suasana yang panas. Segala permasalahan diselesaikan dalam suasana dingin, musyawarah, kekeluargaan. Demo kurang mendapat respon dari masyarakat Banyumas. Suasana panas atau huru-hara yang terjadi di Banyumas terakhir tahun 1981 (huru-hara anti Cina), itupun tidak sepanas daerah lain. 

Kerbau merupakan hewan penurut .

Hal ini terlihat di sore hari, kerbau tetap tenang berjalan, walau sang penggembala duduk di punggung. Si kerbau tidak berontak walau dengan beban di punggungnya digiring ke tempat pemandian di sungai. Hal ini sebagai perlambang bahwa masyarakat Banyumas merupakan masyarakat penurut, diarahkan ke mana saja asal untuk mencapai tujuan kebaikan.

Kerbau mempunyai disiplin tinggi. 

Selesai dimandikan, tanpa di komando kerbau pulang ke kandang lewat jalur yang biasa dilalui. Saking tingginya disiplin, setiap membuang kotoran pasti tidak jauh dari tempat kerbau biasa buang kotoran. Hal ini menunjukan bahwa sebenarnya masyarakat Banyumas mempunyai disiplin yang cukup tinggi.

Pepatah Jawa mengatakan: kebo nusu gudel (induk kerbau menyusu ke anak kerbau), yang artinya orang Banyumas itu demokratis, mau mendengar dan mengakomodir pendapat orang lain yang lebih rendah. 


Di masyarakat Jawa terdapat tradisi menanam kepala kerbau untuk korban sedekah bumi. 
Mengapa kepala kerbau, bukan kepala sapi, kepala kuda atau kepala kambing. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Banyumas mempunyai sifat mau mengorbankan jiwa dan raganya demi membela tanah airnya. Kita mengetahui banyak pejuang nasional berasal dari daerah Banyumas.


Dalam kisah perjuangan Jaka Tinggkir, terdapat episode tentang kerbau mengamuk membabi-buta karena ditutup telinganya  Artinya masyarakat Banyumas akan mengamuk, bila telinganya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya.


Dhadhung adi
 
Dhadhung adalah tali yang terbuat dari bambu yang disayat, diperlunak dan diperlemas dan dipilin sebagai satu kesatuan yang kuat. Bambu bagi masyarakat Banyumas mempunyai arti filosofi yang tinggi, karena:
  • Dalam hidupnya selalu merupakan suatu rumpun yang cukup besar. Hal ini mengandung pengertian bahwa individu masyarakat Banyumas (dengan berbagai ragam kondisinya) merupakan bagian yang tidak terpisahkan antara satu dengan lainnya, bagai rumpun bambu yang terikat secara mendasar yang mengakar. Masyarakat perdesaan merasakan bahwa mereka merupakan suatu keluarga besar dengan Kepala Desa sebagai Bapaknya. Suatu harapan besar bahwa Bupati merupakan Bapaknya masyarakat sewilayah kabupaten tanpa ada pilih kasih atau sifat like and dislike. 
  • Dalam fungsinya, dari yang muda (rebung) sampai yang tua (bambu), dari akar sampai  daun mempunyai fungsi dan peran yang berbeda-beda. Hal ini dapat diartikan bahwa masyarakat Banyumas dari yang muda sampai yang tua, di manapun lokasinya apapun jabatannya dari bawah sampai atas mempunyai fungsi dan peran masing-masing yang berbeda tetapi menyatu dalam satu keluarga besar. 
  • Orang Banyumas mempunyai filosofi hidup: ”kaya pring, kaku kena nggo embatan, lemes kena nggo tali ” yang artinya bahwa kita masyarakat Banyumas kekuatannya dapat menyelesaikan beban atau pekerjaan yang berat, dan dengan keluwesannya dapat menjadi pengikat, pemersatu.

Dhadhung adi sebagai pengikat perilaku kerbau, di sini mempunyai maksud sebagai aturan-aturan yang ada, hidup dan bersumber dari masyarakat sebagai pengendali agar tidak berbuat nyeleweng ke arah yang negatif.
Dalam ajaran masyarakat tradisional Jawa, aturan atau undang-undang dapat pula diartikan sebagai statement pejabat dan/atau para pakar. Karenanya di masyarakat Jawa terdapat ungkapan: ”sabda pandita ratu, sak kecap tan kena wola-wali ”.Hal ini merupakan suatu tantangan bagi para pakar dan/atau pejabat agar dalam menyampaikan sesuatu harus benar dan dapat dipercaya masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar