Senin, 27 Mei 2013

ALTERNATIF PENGEMBANGAN WISATA BATURADEN



Baturaden Sebagai Wisata Alam


Kecenderungan  yang terjadi di dalam dunia  pariwisata khususnya wisatawan dari benua Eropah ialah bahwa terjadinya perubahan maksud kunjungan wisata. Pada masa-masa  sekarang kunjungan  wisata lebih banyak dengan obyek alam, atau  yang lebih sering disebut sebagai wisata alam atau ecotourism. Kondisi  alam di kawasan Asia - Pasifik yang sangat kontras dengan kondisi alam di Eropah, menjadikan kawasan ini  merupakan daya tarik yang sangat potensial bagi wisatawan Eropah yang melakukan perjalanan dengan maksud untuk berekreasi.

Dari hal-hal sebagaimana terurai di atas merupakan peluang yang cukup besar bagi bangsa Indonesia untuk  memasarkan  potensi alam, dengan kondisi alam iklim tropis yang sangat berbeda dengan kondisi alam di benua Eropah, sebagai asal wisatawan. Namun demikian menurut Elizabeth Boo, untuk dapat memasarkan potensi alam sebagai ekotourisme diperlukan minimal 3 (tiga) macam strategi, yaitu:

1. menilai potensi alam yang layak sebagai obyek atau atraksi wisata saat ini, dan pengembangannya masa mendatang;

2. menentukan situasi pariwisata yang diinginkan atau sesuai selera pasar, dan mengidentifikasi langkah-langkah  untuk mencapai situasi tersebut; dan

3.   menulis suatu dokumen strategi ekotourisme.

Dalam hal menilai potensi alam yang layak sebagai obyek atau atraksi wisata sebagai tolok ukur utama, sesuai dengan maksud/tujuan (rekreasi), dan asal wisatawan (mayoritas dari Eropah), adalah obyek dan atraksi wisata yang kondisinya berbeda dengan kondisi di Eropah sebagaimana terurai di atas. Semakin besar perbedaan, dan semakin kecil populasinya, semakin tinggi nilai keunikannya, yang berarti  semakin tinggi nilai pemasar-annya. Berbagai potensi alam yang layak sebagai obyek dan atraksi wisata tersebut antara lain: phenomena alam, keaslian alam, pelestarian alam, pengelolaan alam atau sumber daya alam, dan sebagainya.

Dalam kebijaksanaannya, Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Peraturan Daerah No: 2 tahun 1989 tetang: Rencana Umum Tata Ruang Kawasan Wisata Baturaden (yang semestinya sudah dievaluasi dan/atau direvisi) menetapkan antara lain bahwa kawasan seluas 1.002 Ha di  wilayah  desa-desa: Ketenger, Karangmangu, Kemutug lor (Kecamatan Baturaden), dan Limpakuwus Kecamatan Sumbang merupakan kawasan dengan fungsi utama sebagai kawasan wisata alam.

Melalui peraturan daerah tersebut Pemerintah Kabupaten Banyumas bertekad tetap mempertahankan struktur dan kultur setempat dengan agrowisata sebagai potensi wisata andalan yang dipasarkan kepada wisatawan mancanegara khususnya, dengan ditunjang dengan berbagai  kegiatan khususnya kesenian tradisional.

Potensi wisata alam yang dikembangkan sebagai obyek dan atraksi wisata di Kawasan Wisata Baturaden dapat dibedakan dalam:

1. Phenomena alam keanehan alam, yaitu kondisi alam yang terjadi di luar keadaan yang umum/biasa terjadi. Potensi  tersebut antara lain: sumber air panas, curug/air terjun, telaga, dan gua.

2. Pesona alam di sini merupakan keindahan alam yang ditimbulkan oleh kondisi alam setempat, seperti udara  sejukpemandangan/panorama indah, dan lain-lain.

3.  Keaslian (original) alam, yaitu kondisi alam yang belum dirubah manusia. Potensi tersebut antara lain: hutan lindung, aliran air sungai, bebatuan, dan lain-lain.

4.  Potensi alam yang dikembangkan, yaitu potensi alam yang dikembangkan dengan tujuan untuk pemenuhan kebutuhan atau kemudahan manusia, seperti: permandian, kolam pancingan, hutan wisata, perkemahan, budidaya tanaman hias dan sebagainya.

5. Pengelolaan potensi alam, yaitu kegiatan-kegiatan dengan obyek potensi alam, dengan tujuan untuk memperoleh produk sebagai pemenuh kebutuhan hidup sehari-hari seperti: pertanian dengan teknologi tradisional, peternakan tradisional, industri dan kerajinan rakyat tradisional, dan sebagainya.

Dari 5 (lima) kelompok obyek dan atraksi wisata di kawasan wisata Baturaden di atas, kelompok kelima merupakan atraksi wisata yang potensial bagi wisatawan manca negara sebagai agrowisata atau wisata yang memanfaatkan kegiatan agrikultur (pertanian). Keadaan yang demikian ini dikarenakan dalam kehidupan sehari-hari wisatawan manca negara memanfaatkan teknologi modern. Karenanya teknologi tradisional berbagai bidang, khususnya di bidang pertanian merupakan atraksi yang langka.

Kegiatan-kegiatan dalam sektor pertanian ditunjang dengan kondisi masyarakat dengan pola pikir dan pola perilaku yang tradisional khas Banyumas, kesemuanya secara terpadu merupakan atraksi wisata yang cukup potensial bagi wisatawan mancanegara, khususnya wisatawan dari Eropah.

Wisata Rekreasi dan Wisata Konvensi


Dari data statistik diketahui bahwa jumlah wisatawan mancanegara (khususnya Eropah) yang berkunjung ke Asia Pasifik atau Indonesia khususnya, sebagian terbesar (77 %) bertujuan untuk rekreasi, di samping tujuan-tujuan lain seperti: bisnis, konvensi, olah raga dan sebagainya. Dalam pengertiannya, rekreasi (recreation) adalah suatu kegiatan yang dilakukan di luar kebiasaan atau rutinitas dengan tujuan untuk menghilangkan kejenuhan, dan mendapatkan/ memperoleh kesegaran kembali baik fisik maupun psikhis.

Dari pengertian rekreasi tersebut, jelas bahwa pangkal tolak dari kegiatan rekreasi adalah adanya rutinitas atau hal-hal yang sudah terbiasa ditemui atau dilakukan di satu sisi, dan refressing di sisi lain sebagai kebutuhannya. Dengan demikian untuk terpenuhinya kebutuhan refressing tersebut diperlukan adanya sarana yang berbeda (unik) dari hal-hal yang biasa ditemui atau dilakukan sehari-hari di lingkungan (baik lingkungan alam maupun lingkungan binaan) kehidupannya. Rekreasi sebagai tujuan wisata, berarti bahwa para wisatawan dalam malakukan perjalanaan wisata mempunyai maksud untuk menghilangkan kejenuhan sebagai akibat rutinitas yang terjadi sehari-hari. Rutinitas dapat terjadi dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan, maupun lingkungan tempat kegiatan tersebut dilakukan.

Untuk mengurangi atau menghilangkan kejenuhan sebagai akibat rutinitas tersebut dilakukan dengan cara menikmati obyek dan/atau atraksi wisata yang tidak pernah ditemui atau dilakukan dalam kesehariannya. Dengan kata lain bahwa para wisatawan berusaha untuk mendapatkan keunikan-keunikan di negara/tempat lain. Semakin unik atau jarang ditemui atas suatu obyek atau atraksi, akan semakin potensial sebagai daya tarik atau obyek bagi wisatawan.

Lokasi kawasan wisata Baturaden yang berhubungan langsung dengan kawasan hutan alam merupakan keunggulan dan keunikan Baturaden sebagai kawasan wisata, khususnya wisatawan Eropah. Pada umumnya kawasan wisata yang ada di Indonesia berada di pantai, atau berhubungan langsung dengan laut. Dengan modal keunggulan/ keunikan tersebut Baturaden sangat potensial dijadikan kawasan wisata rekreasi bagi wisatawan mancanegara. Masalahnya tinggal menentukan atraksi-atraksi yang sesuai dengan keunikan Baturaden, sebagai daya pikat agar wisatawan krasan di Baturaden. Atraksi-atraksi tersebut antara lain dengan melokasikan fasilitas penunjang (hotel, restoran) sedekat mungkin dengan hutan, meningkatkan aksesibilitas ke dalam hutan, dan lain-lain.

Kesimpulan dan Saran


Dari hal-hal sebagai terurai di atas jalas bahwa dengan  potensi alamnya Baturaden sangat potensial untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata rekreasi dan wisata konvensi, baik tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional sebagai sumber pendapatan asli daerah, sesuai yang dikehendaki oleh Undang-undang Otonomi Daerah.

Untuk merealisasi hal-hal tersebut di atas, selain diperlukan adanya kesamaan persepsi dari berbagai pihak terkait (termasuk warga masyarakat setempat) tentang obyek dan atraksi bagi wisata rekreasi dan wisata konvensi, juga pola manajemen pariwisata yang profesional sangatlah dibutuhkan.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar